Assalammualaikum dan salam sejahtera..
Hala tuju suatu yang begitu penting bagi kehidupan seseorang manusia, tanpa mempunyai hala tuju kita tidak akan dapat mengukur apakah erti kejayaan atau matlamat yang ingin dicapai. Jika kita keluar rumah dan tidak tahu kemana kita akan pergi hanya menghidupkan kereta dan memandu keluar dari taman kawasan rumah kita mungkin kita akan menghadapi masalah kerana perbuatan kita seolah-olah tidak memberikan apa-apa erti bagi diri kita.
Oleh sebab itu hala tuju perlu jelas kepada diri kita, Apakah yang kita inginkan? Apakah kita inginkan kegembiraan dan apakah pengertian kegembiraan buat diri kita. Adakah kita gembira sekiranya dapat makanan yang sedap? Apakah kita gembira sekiranya dapat bermain bola atau melihat permainan bola dari pasukan yang terkenal? Adakah kita gembira sekiranya dapat memuaskan nafsu kita seperti melihat gambar-gambar lucah atau membaca cerita-cerita yang tidak senonoh? Atau adakah kita gembira apabila dapat membaca Al Quran dan memahami erti kandungan Al Quran tersebut? Apakah sebenarnya yang mengembirakan diri kita?
Persoalan ini berbalik kepada hala tuju yang telah kita tetapkan atau tujuan kehidupan yang kita ingini, namun didalam mencapai cita-cita ini ada saitan yang akan mengubahkan segala hala tuju yang kita inginkan kepada hala tuju yang sementara sehingga kita tidak tahu apakah yang perlu kita utamakan daripada perkara-perkara yang utama. Kejelasan dan kesungguhan untuk mendapatkan nilai seperti nilai yang ditetapkan oleh Allah swt perlu di berikan tumpuan seperti sinar matahari dipagi hari yang menyinari bumi tanpa henti-henti walaupun kadang kalanya ada mendung namun sinarnya tetap akan menerangi bumi ini. Kita perlu bersungguh-sungguh dan berusaha agar apa yang kita mahukan sentiasa mekar dan bermain didalam pemikiran yang sentiasa berharap kepada pertolongan Allah swt dan semuga saitan akan dikalahkan dan iman mendapat kemenangan.
Cabaran dan dugaan adalah lumrah kehidupan, ada yang sentiasa dibantu oleh Allah swt dan ada yang terpesung didalam melalui jalan kehidupan ini. Namun usaha untuk bangkit perlu ada agar iman akan sentiasa dibajai dengan ayat-ayat Al Quran dan menjadikan diri kita makhluk Allah yang berserah kepadaNya. Tiada cabaran dan dugaan seolah-olah tiada kejayaan kerana tidak mengenal erti kesukaran. Kesukaran akan menjadikan perbezaan erti kemanisan kejayaan, seorang yang kaya mendapat RM 1000 mungkin tidak begitu bermakna berbanding seorang miskin yang mendapat RM 1000. Kemanisan hanya akan lebih dirasai apabila kita memperolehi apa yang diingini setelah kesukaran untuk mendapatkanya dilalui dengan pengorbanan dan kesungguhan. Apakakh hala tuju dan pengorbanan yang sanggup kita lakukan bagi mendapatkanya, Marilah kita fikir-fikirkan. Allah hu Alam
Wednesday, December 23, 2009
Monday, December 14, 2009
Air Mata Rasulullah saw
AIRMATA RASULULLAH SAW...
Tak bosan-bosan rasanya membaca kisah ini...
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'
'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.
'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'
'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?'
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku'
'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Tak bosan-bosan rasanya membaca kisah ini...
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. 'Bolehkah saya masuk?' tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, 'Maafkanlah, ayahku sedang demam', kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, 'Siapakah itu wahai anakku?'
'Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,' tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan.
Seolah-olah bahagian demi! bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
'Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malaikatul maut,' kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
'Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?', tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
'Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu.
'Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,' kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. 'Engkau tidak senang mendengar khabar ini?', tanya Jibril lagi.
'Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?'
'Jangan khawatir, wahai Rasul ! Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat
Muhammad telah berada di dalamnya,' kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. 'Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.'
Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
'Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?'
Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
'Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,' kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
'Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.'
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, ! Ali segera mendekatkan telinganya. 'Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku'
'peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.'
Diluar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
'Ummatii,ummatii,ummatiii?' - 'Umatku, umatku, umatku'
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu.
Kini, mampukah kita mencintai sepertinya?
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
NB:
Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesadaran untuk mengingat maut dan mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Wasiatku
Assalammualaikum dan salam sejahtera,
http://kalamiar.blogspot.com/2009/04/cinta-teragung-dari-rasulullah-saw.html
Wasiat suatu yang disediakan oleh seseorang untuk orang-orang yang dikasihi, semua wasiat selalunya mengharapkan agar orang yang ditinggalkan dapat melakukan yang terbaik buat mereka, ada wasiat yang membahagikan harta, ada wasiat yang memberikan amanah untuk ditunaikan oleh penerima wasiat. Namun segalanya adalah suatu yang dikehendaki oleh simati kerana mungkin tidak berkesempatan untuk menunaikan semasa mereka hidup atau memang mereka mahukan segalanya dilakukan selepas kematiannya.
Apabila kita mendapat jemputan untuk menghadiri pembacaan wasiat atau pihak makamah memanggil kita kerana ada seseorang telah mewasiatkan sesuatu buat diri kita tentu sekali kita akan merasakan seperti mendapat durian runtuh kerana siapakah yang begitu baik hatinya sehinggakan mahu memberikan wasiat buat diri kita. Tentu kita tidak akan sabar sekiranya kita mengetahui wasiat itu dituliskan oleh seorang yang kaya raya. Kita mungkin telah berkira-kira berapa ribukah yang mungkin akan kita terima dan mungkin angan-angan kita begitu jauh untuk membelanjakan wang yang akan kita terima.
Namun apabila Rasulullah saw wafat, dengan penuh kasih saying dan harapan sentiasa meninggalkan pesanan dan wasiat buat diri kita untuk menyelamatkan diri kita diakhirat, apakah kita mahu sentiasa cuba meneliti akan wasiat yang ditinggalkannya. Rasullullah saw menjelaskan yang beliau meninggalkan Al Quran dan sunnah untuk kita, bagi menjaga kehidupan diri kita di dunia untuk mendapat kebaikan kehidupan di akhirat. Apakah tindakan dan sikap kita terhadap wasiat dari rasulullah saw.
Adakah kita tertanya-tanya apakah peningalan dari rasulullah buat diri kita? Adakah kita menyemak segala wasiat yang ditinggalkan untuk kita? Adakah kita berterima kasih diatas wasiat yang ditinggalkan dan kita benar-benar melakukan perkara-perkara yang diwasiatkan buat diri kita. Atau kita memandang sepi sahaja akan wasiat-wasiat yang ditinggalkan, kita merasakan kita tidak memerlukan segala peninggalan dari rasulullah saw. Kita merasakan begitu puas tentang apa yang telah kita lakukan dan tidak perlu mengkaji atau menyemak segala peninggalan dari rasululllah saw. Bagaimanakah sikap kita? Marilah kita bermula untuk meneliti akan wasiat kasih sayang yang telah ditinggalkan oleh rasulullah saw buat diri kita dan benar-benar bersyukur dengan peninggalan yang telah ditinggalkkan buat diri kita. Walah hu alam.
http://kalamiar.blogspot.com/2009/04/cinta-teragung-dari-rasulullah-saw.html
Wasiat suatu yang disediakan oleh seseorang untuk orang-orang yang dikasihi, semua wasiat selalunya mengharapkan agar orang yang ditinggalkan dapat melakukan yang terbaik buat mereka, ada wasiat yang membahagikan harta, ada wasiat yang memberikan amanah untuk ditunaikan oleh penerima wasiat. Namun segalanya adalah suatu yang dikehendaki oleh simati kerana mungkin tidak berkesempatan untuk menunaikan semasa mereka hidup atau memang mereka mahukan segalanya dilakukan selepas kematiannya.
Apabila kita mendapat jemputan untuk menghadiri pembacaan wasiat atau pihak makamah memanggil kita kerana ada seseorang telah mewasiatkan sesuatu buat diri kita tentu sekali kita akan merasakan seperti mendapat durian runtuh kerana siapakah yang begitu baik hatinya sehinggakan mahu memberikan wasiat buat diri kita. Tentu kita tidak akan sabar sekiranya kita mengetahui wasiat itu dituliskan oleh seorang yang kaya raya. Kita mungkin telah berkira-kira berapa ribukah yang mungkin akan kita terima dan mungkin angan-angan kita begitu jauh untuk membelanjakan wang yang akan kita terima.
Namun apabila Rasulullah saw wafat, dengan penuh kasih saying dan harapan sentiasa meninggalkan pesanan dan wasiat buat diri kita untuk menyelamatkan diri kita diakhirat, apakah kita mahu sentiasa cuba meneliti akan wasiat yang ditinggalkannya. Rasullullah saw menjelaskan yang beliau meninggalkan Al Quran dan sunnah untuk kita, bagi menjaga kehidupan diri kita di dunia untuk mendapat kebaikan kehidupan di akhirat. Apakah tindakan dan sikap kita terhadap wasiat dari rasulullah saw.
Adakah kita tertanya-tanya apakah peningalan dari rasulullah buat diri kita? Adakah kita menyemak segala wasiat yang ditinggalkan untuk kita? Adakah kita berterima kasih diatas wasiat yang ditinggalkan dan kita benar-benar melakukan perkara-perkara yang diwasiatkan buat diri kita. Atau kita memandang sepi sahaja akan wasiat-wasiat yang ditinggalkan, kita merasakan kita tidak memerlukan segala peninggalan dari rasulullah saw. Kita merasakan begitu puas tentang apa yang telah kita lakukan dan tidak perlu mengkaji atau menyemak segala peninggalan dari rasululllah saw. Bagaimanakah sikap kita? Marilah kita bermula untuk meneliti akan wasiat kasih sayang yang telah ditinggalkan oleh rasulullah saw buat diri kita dan benar-benar bersyukur dengan peninggalan yang telah ditinggalkkan buat diri kita. Walah hu alam.
Imam Ghazali bertanya 6 soalan
Imam Ghazali Bertanya 6 soalan
10 Aug 2007 Author: Admin In: Tazkirah
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? “ .Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati” . Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” . Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?” .Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?” .Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?” .Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Solat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.
Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” .Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia” . Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
10 Aug 2007 Author: Admin In: Tazkirah
Suatu hari, Imam Al Ghozali berkumpul dengan murid-muridnya. Lalu Imam Al Ghozali bertanya, pertama, “Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini? “ .Murid-muridnya ada yang menjawab orang tua, guru, teman, dan kerabatnya. Imam Ghozali menjelaskan semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah “Mati” . Sebab itu sudah janji Allah SWT bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati. (Ali Imran 185)
Lalu Imam Ghozali meneruskan pertanyaan yang kedua. “Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini?” . Murid-muridnya ada yang menjawab negara Cina, bulan, matahari, dan bintang-bintang. Lalu Imam Ghozali menjelaskan bahwa semua jawaban yang mereka berikan adalah benar. Tapi yang paling benar adalah masa lalu. Bagaimanapun kita, apapun kendaraan kita, tetap kita tidak bisa kembali ke masa lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama.
Lalu Imam Ghozali meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga. “Apa yang paling besar di dunia ini?” .Murid-muridnya ada yang menjawab gunung, bumi, dan matahari. Semua jawaban itu benar kata Imam Ghozali. Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah “Nafsu” (Al A’Raf 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu membawa kita ke neraka.
Pertanyaan keempat adalah, “Apa yang paling berat di dunia ini?” .Ada yang menjawab baja, besi, dan gajah. Semua jawaban sampean benar, kata Imam Ghozali, tapi yang paling berat adalah “memegang AMANAH” (Al Ahzab 72). Tumbuh-tumbuhan, binatang,gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka untuk menjadi kalifah (pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya menyanggupi permintaan Allah SWT, sehingga banyak dari manusia masuk ke neraka karena ia tidak bisa memegang amanahnya.
Pertanyaan yang kelima adalah, “Apa yang paling ringan di dunia ini?” .Ada yang menjawab kapas, angin, debu, dan daun-daunan. Semua itu benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling ringan di dunia ini adalah meninggalkan Solat. Gara-gara pekerjaan kita tinggalkan sholat, gara-gara meeting kita tinggalkan solat.
Lantas pertanyaan ke enam adalah, “Apakah yang paling tajam di dunia ini?” .Murid-muridnya menjawab dengan serentak, pedang. Benar kata Imam Ghozali, tapi yang paling tajam adalah “lidah manusia” . Karena melalui lidah, Manusia dengan gampangnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri.
sejauh mana sibuknya pejabatku
Assalammualikum dan salam sejahtera,
http://kalamiar.blogspot.com/2009/11/nilai-sebuah-pekerjaan.html
Setiap hari kita akan ke pejabat, kadang kala hari cuti juga kita akan ke pejabat, maklumlah begitu banyak tugas yang perlu kita lakukan sehinggakan masa kita habis dipejabat lebih banyak dari dirumah kita sendiri. Kita melaksanakan tugas dengan penuh semangat dan bersungguh kerana kia marasai tanggungjawab dan peranan yang perlu kita lakukan, ini tanda berterima kasih kita kerana telah diberikan pekerjaan. Namun ada orang yang tiba-tiba mungkin diberhentikan, mungkin akan tiba masanya kita tidak diperlukan dan berakhirlah peranan kita dipejabat tersebut. Maklumlah kita kata dah bukan rezeki kita kerana semua rezeki adalah datang dari Allah swt.
Jika kita menyedari bahawa rezeki dari Allah swt, Allah swt mampu memberikan pekerjaan, mampu menarik balik pekerjaan yang telah diberikan bukankah ini bermakna kita adalah pegawai yang dihantarkan oleh Allah swt untuk bertugas disuatu syarikat atau pejabat. Oh kita rupanya pegawai tuhan yang di hantarkan untuk memakmurkan bumi Allah swt. Maka pejabat kita bukan sahaja di syarikat kita bekerja sekarang tetapi di muka bumi ini, di rumah, didalam kenderaan, di surau, di kedai semuanya adalah pejabat kita yang telah diberikan oleh Allah swt. Semuanya ada amanah dan tugas yang perlu kita lakukan, tetapi peranan dan tanggung jawab yang terbesar adalah menjadi abdi dengan mengiktiraf Allah sebagai rabb. Sesuai dengan ayat Allah swt Az Zariyat:56 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku”
KPI utama kita adalah untuk beribadah dimana sahaja kita berada dalam menjalankan tugas sebagai pegawainya, lain-lain tugas juga telah disenaraikan di dalam Al Quran yang mengandungi peraturan kehidupan, peraturan kehidupan, peraturan perniagaan, peraturan perundangan dan merangkupi semua perkara yang mungkin kita lalui didalam kehidupan. Walaupun kita boleh menjadi pekerja cemerlang didalam penilaian manusia, adakah kita juga cemerlang didalam melaksanakan tugas di nilai Allah dengan melaksanakan KPI yang telah disediakanNya. Kadang kala kita memikirkan KPI pejabat begiitu serious sekali tetapi kita amat jarang memikirkan KPI yang telah ditetapkan oleh Allah swt untuk kehidupan kita yang sementara ini,
Kita begitu serious sekali bila bekerja dipejabat tetapi apakah kita serious dengan pejabat yang diberikan oleh Allah swt didalam kehidupan kita di muka bumi ini. Apakah kita berfikir apakah peranan kita, apakah jawatan kita, apakah keputusan pekerjaan kita, namun bayaran yang diberikan oleh Allah swt begitu besar sehinggakan tidak terhitung nilainya tetapi kita sering tidak menyedarinya. Marilah kita berfikir untuk mendapatkan yang terbaik. Allah hu Alam
http://kalamiar.blogspot.com/2009/11/nilai-sebuah-pekerjaan.html
Setiap hari kita akan ke pejabat, kadang kala hari cuti juga kita akan ke pejabat, maklumlah begitu banyak tugas yang perlu kita lakukan sehinggakan masa kita habis dipejabat lebih banyak dari dirumah kita sendiri. Kita melaksanakan tugas dengan penuh semangat dan bersungguh kerana kia marasai tanggungjawab dan peranan yang perlu kita lakukan, ini tanda berterima kasih kita kerana telah diberikan pekerjaan. Namun ada orang yang tiba-tiba mungkin diberhentikan, mungkin akan tiba masanya kita tidak diperlukan dan berakhirlah peranan kita dipejabat tersebut. Maklumlah kita kata dah bukan rezeki kita kerana semua rezeki adalah datang dari Allah swt.
Jika kita menyedari bahawa rezeki dari Allah swt, Allah swt mampu memberikan pekerjaan, mampu menarik balik pekerjaan yang telah diberikan bukankah ini bermakna kita adalah pegawai yang dihantarkan oleh Allah swt untuk bertugas disuatu syarikat atau pejabat. Oh kita rupanya pegawai tuhan yang di hantarkan untuk memakmurkan bumi Allah swt. Maka pejabat kita bukan sahaja di syarikat kita bekerja sekarang tetapi di muka bumi ini, di rumah, didalam kenderaan, di surau, di kedai semuanya adalah pejabat kita yang telah diberikan oleh Allah swt. Semuanya ada amanah dan tugas yang perlu kita lakukan, tetapi peranan dan tanggung jawab yang terbesar adalah menjadi abdi dengan mengiktiraf Allah sebagai rabb. Sesuai dengan ayat Allah swt Az Zariyat:56 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada Ku”
KPI utama kita adalah untuk beribadah dimana sahaja kita berada dalam menjalankan tugas sebagai pegawainya, lain-lain tugas juga telah disenaraikan di dalam Al Quran yang mengandungi peraturan kehidupan, peraturan kehidupan, peraturan perniagaan, peraturan perundangan dan merangkupi semua perkara yang mungkin kita lalui didalam kehidupan. Walaupun kita boleh menjadi pekerja cemerlang didalam penilaian manusia, adakah kita juga cemerlang didalam melaksanakan tugas di nilai Allah dengan melaksanakan KPI yang telah disediakanNya. Kadang kala kita memikirkan KPI pejabat begiitu serious sekali tetapi kita amat jarang memikirkan KPI yang telah ditetapkan oleh Allah swt untuk kehidupan kita yang sementara ini,
Kita begitu serious sekali bila bekerja dipejabat tetapi apakah kita serious dengan pejabat yang diberikan oleh Allah swt didalam kehidupan kita di muka bumi ini. Apakah kita berfikir apakah peranan kita, apakah jawatan kita, apakah keputusan pekerjaan kita, namun bayaran yang diberikan oleh Allah swt begitu besar sehinggakan tidak terhitung nilainya tetapi kita sering tidak menyedarinya. Marilah kita berfikir untuk mendapatkan yang terbaik. Allah hu Alam
Subscribe to:
Posts (Atom)